Perbesar Wadahku

Anak saya punya kebiasaan bermain saat mandi. Dan belakangan ini dia sedang senang “membuat kopi” untuk maminya. Berbekal wadah-wadah semacam mangkok-mangkok kecil, ember berisi air, dan sendok plastik, dia akan asyik meramu minuman sementara saya memandikannya.

Sekali waktu, dia akan mendongak dan berkata,”Mami, minta air.” Dan saya akan mengarahkan kepala shower ke mangkok kecilnya. Jelas saja dengan cepat dan segera air memenuhi wadah di tangan anak saya.

Yang lucu buat saya, meski wadah itu jelas-jelas sudah penuh, anak saya akan berkata,”Lagi, Mami. Lagi.” More

Recap #kuis #HujanPelangi ^^

Cover Hujan dan PelangiHari Minggu, tgl 23 Juni lalu, saya dan kedua rekan saya (Mikayla dan Marcia) mengadakan kuis berhadiah keychain sepasang lumba-lumba dan novel kami “Hujan dan Pelangi”. Sekedar iseng, menghibur mereka yang sudah membaca, maupun yang baru sekedar penasaran dengan novel kami ini :). More

Nostalgia Mesin Tik :)

Belum lama ini saya makan di “restoran penjara” Bong Kopitiam. Can’t say I like the decor, though, or even the menu. But my husband did like it. Sementara Matt berulang kali bilang: Mami, pulang yuk. Papi, jangan pernah ajak Dudu ke sini lagi ya! X))

Meski begitu, ada satu benda di sana yang menarik perhatian saya. Sebuah mesin tik tua. More

Perjalanan Menulis Novel “Hujan dan Pelangi” (^.^)

Mau share perjalanan menulis novel #HujanPelangi (1)-(25) bersama rekan saya @MikaylaFernanda @chrmarcia 🙂 Semoga berkenan! | @_Plotpoint

(1) Awalnya diajak kolaborasi menulis novel, saya enggan. Lah nulis sendiri aja ribet, gimana berdua? Eh ini malah bertiga! #HujanPelangi

(2) Tahu dong istilah “too many cook spoil the broth”? Kalau terlalu banyak koki, bikin sop aja bisa jd ngawur rasanya! #HujanPelangi

(3) Apalagi saya dgn @MikaylaFernanda dan @chrmarcia punya gaya penulisan yg beda blas. Apa nggak belang tuh novelnya nanti? #HujanPelangi More

Sinopsis Novel “Hujan dan Pelangi”

Image

Sekilas Sinopsis Novel “Hujan dan Pelangi” 🙂 More

Mas, Mas, jual ini nggak?

Beberapa waktu lalu saya mengalami hal memalukan dengan melupakan orang yang menyapa dan sepertinya mengenal saya dengan baik. Waktu itu saya berpikir saya tidak mungkin melakukan hal yang lebih memalukan lagi di muka publik.

Salah besar.

Matthew yang hendak memulai hari-hari pertamanya di sekolah, saya mencari tas geret kecil untuk Matt, preferably yang bergambar Thomas. Menurut info teman saya, di Gramedia ada. Jadilah kami ke Gramedia hari itu.

Sementara Matt bermain dengan anak lain di tempat bermain yang disediakan toko buku itu, saya menjelajah mencari keperluannya sekolah. Sekalian saya membeli beberapa peralatan kantor. Salah satu yang saya cari adalah (sampai sekarang masih nggak tahu nama resminya): alat buat taruh selotip terus selotipnya tinggal ditarik dan dipotong oleh alat itu, jadi kita nggak repot menggunting. More

Hai! Apa kabar? | Baik. Situ siapa, ya?| -.-“

Tahu kan canggungnya kalau tiba-tiba out of nowhere ada yang nepuk pundak kita terus menyapa riang: ‘Hei, gile, bisa ketemu di sini! Apa kabar?’ lalu demi memberi muka (dan menutupi muka sendiri) kita ikutan tersenyum lebar dan balas menyapa: ‘Heeeiii! Baik, baik. Elo sendiri gimana?’ sambil diam-diam memerintahkan sel-sel kelabu di otak untuk menggali memori yang terkubur demi menemukan jawaban atas pertanyaan: Elo siapa sih?? More

Satu Hal Yang Tidak Akan Berubah

Saya mengamati anak saya bermain di playground Ace Hardware Living Mal. Dengan lincah kaki kecilnya menaiki anak tangga demi anak tangga. Tanpa bantuan. Bahkan sesekali tangannya menepis lengan susternya yang sedang menjaganya. “Dudu bisa sendiri!” tegasnya.

Selesai mendaki tangga, anak saya merangkak masuk ke dalam terowongan, dan di ujung perosotan dia sempat berhenti. “Dudu takut!” katanya tanpa malu. Saya memang selalu mengajarkannya untuk mengungkapkan perasaannya secara terbuka. Dengan begitu kami sebagai orangtua bisa membantunya.

“It’s okay, honey!” seru saya memberi semangat. “Dudu bisa! You have done this before!”

Saya tersenyum kecil ketika anak saya menyemangati diri sendiri. “Dudu bisa. Dudu udah berani.” Tarik napas…lalu…syuuung…meluncurlah dia dengan senyum lebar di wajahnya.

“Good job!” kata saya, dan wajahnyapun bersinar-sinar.

Sementara mata saya malah berkaca-kaca. More

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

July 2017
M T W T F S S
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.